Percobaan 12 Praktikum kimia anorganik "Pembuatan Asam Boraks"
PRAKTIKUM KIMIA ANORGANIK
PERCOBAAN 12 "PEMBUATAN ASAM BORAKS"
DOSEN PENGAMPU :
ASISTEN DOSEN :
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA
I. Tujuan
1. Mengetahui cara penentuan kandungan boraks pada makanan.
2. Mengetahui ciri-ciri makanan yanga mengandung boraks.
II. Landasan Teori
2.1 Pengertian Boraks
Boraks adalah senyawa dengan nama kimia natrium tetraborat (NaB4O7). berbentuk padat, jika terlarut dalam air akan menjadi natrium hidroksida dan asam borat (H3BO3). Dengan demikian bahaya boraks identik dengan bahaya asam borat (Khamid, 1993).
Senyawa-senyawa asam borat ini mempunyai sifat-sifat kimia sebagai berikut : jarak lebur sekitar 171oC. Larut dalam 18 bagian air dingin, 4 bagian air mendidih, 5 bagian gliserol 85%, dan tidak larut dalam eter. Kelarutan dalam air bertambah dengan penambahan asam klorida, asam sitrat atau asam tartrat. Mudah menguap dengan pemanasan dan kehilangan satu molekul airnya pada suhu 1000 C yang secara perlahan berubah menjad asam metaborat (HBO2). Asam borat merupakan asam lemah dengan garam alkalinya bersifat basa, mempunyai bobot molekul 61,83 berbentuk serbuk halus kristal transparan atau granul putih tak berwarna dan tak berbau serta agak manis (Khamid, 2006).
2.2 Karakteristik Boraks
Boraks atau Natrium tetraborat memiliki berat molekul 381,37. Rumus molekul Na2B4O7.10H2O. Pemeriannya berupa hablur transparan tidak berwarna atau serbuk hablur putih; tidak berbau. Larutan bersifat basa terhadap fenolftalein. Pada waktu mekar di udara kering dan hangat, hablur sering dilapisi serbuk warna putih. Kelarutan boraks yaitu larut dalam air; mudah larut dalam air mendidih dan dalam gliserin; tidak larut dalam etanol (Ditjen POM, 1995).
Natrium tetraborat mengandung sejumlah Na2B4O7 yang setara dengan tidak kurang dari 99,0 % dan tidak lebih dari 105,0 % Na2B4O7.10H2O. Larutan boraks bersifat basa terhadap fenolftalein, mudah larut dalan air mendidih dan dalam gliserin; tidak larut dalam etanol (Ditjen POM 1995).
2.3 Fungsi Boraks
Baik boraks ataupun asam borat memiliki khasiat antiseptika (zat yang menghambat pertumbuhan dan perkembangan mikroorganisme). Pemakaiannya dalam obat biasanya dalam salep, bedak, larutan kompres, obat oles mulut, bahkan juga untuk pencuci mata. Boraks juga digunakan sebagai bahan solder, bahan pembersih, pengawet kayu dan antiseptik kayu (Khamid, 2006).
Asam borat dapat dibuat dengan menambahkan asam sulfat atau klorida pada boraks. Larutannya dalam air (3%) digunakan sebagai obat cuci mata yang dikenal sebagai boorwater. Asam borat juga digunakan sebagai obat kumur, semprot hidung dan salep luka kecil. Tetapi bahan ini tidak boleh diminum atau digun huakan pada bekas luka luas, karena beracun bila terserap oleh tubuh (Winarno dan Rahayu, 1994).
Meskipun bukan pengawet makanan, boraks sering pula digunakan sebagai pengawet makanan. Boraks sering disalahgunakan untuk mengawetkan berbagai makanan seperti bakso, mie basah, pisang molen, siomay, lontong, ketupat dan pangsit. Selain bertujuan untuk mengawetkan, boraks juga dapat membuat tekstur makanan menjadi lebih kenyal dan memperbaiki penampilan makanan (Vepriati, 2007).
2.4 Macam-macam Metode Uji Boraks
2.4.1 Uji Kualitatif
Beberapa uji kualitatif untuk boraks, antara lain: reaksi dengan H2SO4 dan metanol pada abu sampel; reaksi kertas tumerik dan amonia dengan penambahan H2SO4 dan etanol; dan reaksi H2SO4 pada larutan sampel. Reaksi dengan H2SO4 (P) dan metanol pada sampel yang telah diabukan dalam tanur akan menghasilkan nyala berwarna hijau jika dibakar; reaksi dengan asam oksalat dan kurkumin 1% dalam metanol dengan penambahan amonia pada larutan abu yang bersifat asam akan menghasilkan warna merah cemerlang yang berubah menjadi hijau tua kehitaman (Balai Besar POM, 2007).
Pencelupan kertas tumerik ke dalam larutan sampel yang bersifat asam. Jika terdapat Na2B4O7 atau H3BO3, maka kertas berwarna merah akan berubah menjadi hijau biru terang (Cahyadi, 2006). Pencelupan kertas tumerik ke dalam larutan asam dari sampel menghasilkan coklat merah intensif ketika kertas mengering, yang berubah menjadi hijau kehitaman jika diberi larutan amonia; reaksi dengan penambahan H2SO4 dan etanol pada sampel, akan menghasilkan nyala hijau jika dibakar (Clarke, 2004).
Reaksi dengan H2SO4 dan metanol pada larutan sampel dalam akuades bebas CO2 akan menghasilkan nyala hijau jika dibakar; dan penambahan phenolftalein ke dalam larutan sampel dalam akuades bebas CO2 menghasilkan warna merah yang hilang dengan penambahan 5ml gliserol (British Pharmacopoeia, 1988).
Reaksi dengan H2SO4 (P) dan metanol pada sampel yang telah disentrifugasi akan menghasilkan nyala berwarna hijau jika dibakar; reaksi dengan asam oksalat dan kurkumin 1% dalam metanol dengan penambahan amonia pada larutan abu yang bersifat asam akan menghasilkan warna merah cemerlang yang berubah menjadi hijau tua kehitaman ( Modifikasi Balai Besar POM, 2007).
2.4.2 Uji Kuantitatif
Beberapa uji kuantitatif untuk boraks, yaitu: metode titrimetri; titrasi asam basa; titrasi dengan penambahan manitol; dan metode spektrofotometri. Penetapan kadar asam borat dalam pangan dengan metode titrimetri, yaitu dengan titrasi menggunakan larutan standar NaOH dengan penambahan gliserol akan menghasilkan warna merah muda yang mantap pada titik akhir titrasi (Helrich, 1990).
Penetapan kadar boraks dalam sampel berdasarkan titrasi asam basa dengan menggunakan larutan standar HCl (USP, 1990). Penetapan Kadar boraks dalam sampel dengan penambahan manitol dan indikator phenolftalein dititrasi menggunakan larutan NaOH menghasilkan larutan merah muda pada titik akhir titrasi (British Pharmacopoeia, 1988). Penetapan kadar boraks dengan spektrofotometri, dengan mengukur serapan dari destilasi larutan sampel yang diberi larutan kurkumin dan etanol menggunakan spektrofotometer pada panjang gelombang maksimum 542 nm (Zulharmita, 1995).
2.5 Karakteristik Sampel
2.5.1 Tahu
Tahu merupakan produk kedelai non-fermentasi yang disukai dan digemari di Indonesia seperti halnya tempe, kecap, dan tauco. Tahu adalah salah satu produk olahan kedelai yang berasal dari daratan Cina. Pembuatan tahu dan susu kedelai ditemukan oleh Liu An pada zaman pemerintahan Dinasti Han, kira-kira 164 tahun sebelum Masehi (Shurtleff dan Aoyagi 2001). Kata tahu berasal dari bahasa Cina yaitu tao-hu, teu-hu/tokwa. Kata tao/teu berarti kacang untuk membuat tahu, orang menggunakan kacang kedelai kuning (putih) yang disebut wong-teu (wong = kuning). Hu/kwa itu artinya rusak, lumat, hancur, menjadi bubur. Kedua istilah itu digabungkan menjadi tahu. Pengertian tahu adalah makanan yang terbuat dari kedelai yang dilumatkan atau dihancurkan menjadi bubur (Kastyanto 1999).
Tahu adalah suatu produk makanan berupa padatan lunak yang dibuat melalui proses pengolahan kedelai (Glycne species) dengan prinsip pengendapan protein, dengan atau tidak ditambah bahan lain yang diizinkan (SNI 1998). Sedangkan menurut Shurtleff dan Aoyagi (2001), tahu adalah gumpalan protein dari susu kedelai yang telah dipisahkan dari bagian yang tidak menggumpal (whey) dengan cara pengepresan.
III. Alat dan Bahan
3.1 Alat
a. Beakker Glass 500 ml
b. Beakker Glass 50 ml
c. Spatula Pengaduk
d. Cawan Petri
e. Cawan Porselin dan Mortar
f. Gelas Ukur 10 ml
g. Tabung Reaksi
h. Rak Tabung Reaksi
i. Sentrifugator
j. Penangas Listrik
k. Keranjang Plastik
3.2 Bahan
a. Tahu
b. Lontong
c. Ikan Asin
d. Cilok
e. Mie Basah
f. Bakso
g. HCl
h. Reagent A dan B
i. Kertas Uji Boraks
j. Air Mendidih
k. Tissue
l. Label
IV. Pembahasan
4.1 Skema Kerja dan Fungsi Perlakuan
Pada praktikum uji kandungan boraks, pertama disiapkan sampel sebanyak 10 gram. Sampel yang digunakan yaitu tahu, lontong, ikan asin, cilok, mie basah dan bakso. Sampel tersebut diberi dua perlakuan yang berbeda yaitu dilakukan perendaman dengan menggunakan air panas dan tanpa perendaman dengan menggunakan air panas. Perbedaan perlakuan ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perendaman terhadap kandungan boraks dalam sampel. Selanjutnya sampel dicincang dan dihaluskan menggunakan mortar dan alu agar zat-zat yang terdapat dalam sampel bisa cepat larut atau mempermudah pelarutan. Kemudian sampel tersebut ditambahkan 10 ml air mendidih. Hal ini bertujuan untuk mempermudah pelarutan zat-zat yang terdapat di dalam sampel.
Selanjutnya ditambahkan asam klorida (HCl) sebanyak 5 ml. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan kelarutan boraks dan mempermudah identifikasi, sehingga apabila pada sampel mengandung boraks maka akan lebih larut. Selain itu juga ditambahkan 4 tetes reagent cair. Reagent cair ini berfungsi sebagai pereaksi. Setelah dilakukan pencampuran bahan-bahan tersebut, maka dicelupkan kertas uji sampai terendam sebagain. Kertas uji tersebut digunakan sebagai indikator untuk menentukan ada atau tidaknya kandungan boraks pada sampel. Kemudian kertas uji dikering anginkan agar cepat terjadi reaksi perubahan warna. Terakhir adalah dilakukan pengamatan perubahan warna yang terjadi pada kertas uji. Apabila kertas uji warnanya berubah menjadi warna merah maka sampel yang diuji positif mengandung boraks.
4.2 Analisis Data
Berdasarkan data pengamatan, dapat diketahui bahwa diantara sampel yang digunakan yaitu tahu, lontong, ikan asin, cilok, mie basah dan bakso hanya pada mie basah yang positif mengandung boraks yaitu pada perlakuan tanpa perendaman.
Pada perlakuan tanpa perendaman, setelah dilakukan pengujian sampel mie basah menunjukkan terjadinya perubahan warna pada kertas uji yakni menjadi merah. Hal ini menunjukkan bahwa mie basah tersebut positif mengandung boraks. Sedangkan pada perlakuan perendaman dengan air panas menunjukkan bahwa tidak ada sampel yang mengandung boraks.
Pada perlakuan perendaman dengan menggunakan air panas, sampel mie basah tidak menunjukkan adanya kandungan formalinnya. Hal ini dapat disimpulkan bahwa proses perendaman menggunakan air panas mempengaruhi kandungan boraks, yaitu dapat menurunkan kandungan boraksnya.
V. Kesimpulan
Dari praktikum yang telah dilakukan dapat diperoleh kesimpulan sebagai berikut :
a. Pada uji boraks sampel yang positif mengandung boraks setelah di uji akan berwarna merah bata.
b. Sampel mie basah positif mengandung boraks pada perlakuan tanpa perendaman.
c. Pada perlakuan perendaman dengan air panas menunjukkan bahwa tidak ada sampel yang mengandung boraks.
d. Proses perendaman menggunakan air panas mempengaruhi kandungan boraks, yaitu dapat menurunkan kandungan boraksnya.
6.2 Saran
Sebaiknya praktikan tidak gaduh pada saat meakukan praktikum.
VI. DAFTAR PUSTAKA
Adawyah, R. 2007. Pengolahan dan Pengawetan Ikan. Jakarta : PT. Bumi Aksara.
Astawan, M. 1999. Membuat mie dan Bihun. Jakarta : Penebar Swadaya.
Balai Besar POM. 2007. Instruksi kerja : Identifikasi Boraks Dalam Makanan. Medan.
British Pharmacopoeia. 1988. British Pharmacopoeia, Volume I & II. London: Medicines and Healthcare Products Regulatory Agency (MHRA). Page 4788.
BSNI. 1998. SNI 01-3142-1998 : Syarat Mutu Tahu. Jakarta : Badan Standarisasi Nasional Indonesia.
Cahyadi, W. 2006. Analisis dan Aspek Kesehatan Bahan Tambahan Pangan. Jakarta : Penerbit Bumi Aksara.
Clarke, E. G. C., Moffat, A. C., Osselton, M. D., Widdop, B. 2004. Clarke’s Analysis of Drugs and Poisons. London : Pharmaceutical Press.
Direktorat Gizi Departemen Kesehatan RI. 1981. Daftar Komposisi Bahan Makanan : Jakarta.
Djarijah, A.S. 1995. Pakan ikan alami . Yogyakarta : Kanisius.
Helrich, K.C., (ed), 1990, Official Methods of Analysis Association of Official Analytical Chemist (AOAC) 15th Ed., 780-781, Association of Official Analytical Chemicts Inc, USA.
Kastyanto, F.W.1999. Membuat Tahu. Jakarta : Penebaran Swadaya.
Khamid, 1993. Bahaya Boraks Bagi Kesehatan. Jakarta : Penerbit Kompas
Khamid, I.R. 2006. Bahaya Boraks Bagi Kesehatan. Jakarta. Penerbit Kompas.
Sarwono,S dan Saragih Y.P.2003. Membuat Aneka Tahu. Jakarta : Penebar Swadaya.

Komentar
Posting Komentar