Laporan Praktikum Kimia Organik 1 - Percobaan 3
LAPORAN PRAKTIKUM
KIMIA ORGANIK I
KIMIA ORGANIK I
DISUSUN OLEH :
RAHMADANSAH
(NIM : A1C118066)
DOSEN PENGAMPU:
Dr. Drs. SYAMSURIZAL.,M.Si
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA
JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JAMBI
2019
7.1 Rekristalisasi
NO.
|
PERLAKUAN
|
HASIL
|
1.
|
2 sudip asam benzoat + 1 sudip norit + 1 sudip glukosa lalu dilarutkan dalam air panas.
|
Larutannya larut tetapi masih ada asam benzoat yang belum larut, dan larutan berwarna hitam.
|
2.
|
Dilakukan pemanasan
|
Larutan yang belum larut menjadi larut semua.
|
3.
|
Disaring larutan dengan corong buchner yang telah di alasi kertas saring dan disiram dengan air panas yang endapan tertinggal.
|
Warna larutan yang hitam menjadi jernih saat di saring dan endapan tertinggal di kertas saring.
|
4.
|
Dijenuhkan dengan didinginkan dalam air es.
|
Timbul kristal putih seperti jarum.
|
5.
|
Disaring larutan yang sudah dijenuhkan, lalu dikeringkan
|
Kristal putih tertinggal dikertas saring
|
6.
|
Uji titik lelehnya menggunakan MPA
|
Titik leleh sebesar 100,3°C
|
7.2 Sublimasi
NO.
|
PERLAKUAN
|
HASIL
|
1.
|
Cawan penguap yang telah diisi 1 gram naftalen dan 1 gram pengotor. Dipanaskan ±4 menit.
|
Terdapat kristal yang menepel di dinding corong dan di bawah kapas serta di kertas saring.
|
2.
|
Diuji titik lelehnya menggunakan MPA
|
Titik leleh yang telah diuji adalah sebesar 84°C.
|
VIII. Pembahasan
Suatu cara atau hal khusus yang dilakukan dalam pemurnian suatu zat. Melalui sifat fisika dan Kimianya lah kita dapat mengidentifikasi zat padat tersebut. Kita diharuskan memahami sifat fisika maupun kimianya agar pemurnian tersebut berjalan dengan lancar, terutama pada Kelarutan suatu zat padat yang dapat dimurnikan dalam suatu pelarut. Gradien kepolaran dan jenis pelarut merupakan indikasi penentuan dalam penggunaan pelarut yang lebih dari satu. Disumber banyak sekali ditemukan dalam hal cara pemurnian suatu zat padat, ketika praktikum sudah jangan lupa diuji titik leleh ataupun pakai krimatografi lapis tipis ( http://syamsurizal.staff.unja.ac.id/2019/03/07/pemurnian-zat-padat-organik93/ ).
Pada praktikum kali ini kami sudah mempraktekkan percobaan mengenai rekristalisasi beserta sublimasi. Terdapat permukaan yang datar pada suatu rasa padat dinamakan kristal. Karena banyak zat yang mengandung padat seperti salju, garam, dan kuarsa yang tampak jelas bersusun secara simetris. Perubahan uap tanpa mengalami suatu peristiwa pencarian dulu disebut dengan sublimasi. Karna pada peristiwa ini sangat melibatkan molekul air yang tersublim saat proses pembekuan.
Pada praktikum kali ini kami sudah mempraktekkan percobaan mengenai rekristalisasi beserta sublimasi. Terdapat permukaan yang datar pada suatu rasa padat dinamakan kristal. Karena banyak zat yang mengandung padat seperti salju, garam, dan kuarsa yang tampak jelas bersusun secara simetris. Perubahan uap tanpa mengalami suatu peristiwa pencarian dulu disebut dengan sublimasi. Karna pada peristiwa ini sangat melibatkan molekul air yang tersublim saat proses pembekuan.
8.1 Percobaan Rekristalisasi
Rekristalisasi adalah pemurnian suatu zat padat yang dihasilkan dari senyawa senyawa organik. Metode yang diterapkan ditinjau dari beberapa segi seperti daya larut antara zat pengotor beserta zat yang dimurnikan dalam suatu pelarut tersebut. Proses yang dilakukan berulang ulang dimana ketika sudah murni maka akan dikristalisasi lagi. Maka dapat dikatakan dalam keadaan kristal bias yang keluar dalam pelarut harus imputans yang tertangkap.
Pada percobaan kristalisasi ini memakai bahan Asam Benzoat (C6H6O2). Asam benzoat dilarukan dalam suatu pelarut agar menjadi suatu larutan. Pelarut yang dipakai adalah air panas dimana air panas yang di pakai adalah air yang sudah dipanaskan menggunakan kompor listrik ataupun Bunsen kaki tiga, alasan mengapa air dipanaskan agar tidak ada lagi zat pengotor yang terdapat dalam air tersebut dimana proses penguap lah yang menyebabkan itu semua. Air panas yang dimasukan kedalam asam benzoat adalah sedikit demi sedikit mengapa demikian dikarenakan proses rekristalisasi diusahakan praktikan harus pintar pintar mengira apakah sudah pas atau belum, dimana larutan asam benzoat tidak boleh terlalu encer ataupun terlalu kental.
Perlu diketahui bahwa asam benzoat yang dipakai adalah asam benzoat yang sudah tercemar. Asam benzoat yang sudah dilarutkan pakai air panas nantinya akan membentuk kristal lalu dipisahkan menggunakan corong Buchner, pada proses penyaringan terdapat filtrat yang ada pada permukaan corong Buchner maka filtrat tersebut kemudian disiram kembali menggunakan air panas agar dapat mengirimkan sisa filtrat tersebut.
Ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan untuk memilih pelarut untuk percobaan rekristalisasi adalah sebagai berikut :
1. Zat tersebut tidak terurai maka titik didih harus lebih rendah dibandingkan dengan titik leleh.
2. Untuk mempermudah pengeringan kristal yang terbentuk, maka titik didih pelarut harus rendah.
3. Pelarut tidak hanya bereaksi dengan zat yang akan dilarutkan.
4. Zat tersebut tidak terurai maka titik didih harus lebih rendah dibandingkan dengan titik leleh suatu zat yang akan dimurnikan.
Ukuran kristal selama pengendapan ada beberapa faktor penting berupa :
1.Derajat lewat jenuh dari larutan : semakin tinggi suatu derajat lewat jenuhnya maka semakin besar pula pembuatan inti baru dan juga kristal yang dihasilkan banyak.
2. Laju pembentukan inti (Nukleasi) : kristal akan banyak terbentuk jika laku pembentukan inti tinggi.
8.2 Sublimasi
Sublimasi adalah Perubahan uap tanpa mengalami suatu peristiwa pencarian dulu. Pemanasan yang yang dilakukan akan menyebabkan: dalam keadaan cair zat berada pada suhu kamar, pada perubahan titik didih menjadi fase gas disebabkan oleh tekanan dan temperatur tertentu. Pada suhu kamar zat tersebut akan berubah menjadi fase gas sedangkan pada tekanan dan temperatur tertentu langsung berubah menjadi fase gas tanpa melalui proses cair dahulu. Zat padat yang dipakai biasanya sudah bercampur dengan zat lain. Oleh karena itu perbedaan Kelarutan zat pengotor nya saat perlu diperhatikan.
Pada percobaan sublimasi ini, zat yang disublim adalah Naftalen yang tercemar. Naftalen dikenal juga dengan kapur Barus. Naftalen memiliki rumus molekul C10H8 merupakan senyawa organik hidrokarbon polisiklik aromatik yang berbentuk kristal padat berwarna putih dengan bau yang khas oleh penciuman. Senyawa Naftalen bersifat mudah menguap (Volatil) walau dalam bentuk padat. Titik lebur Naftalen adalah 80,26°C yang sangat mudah menyublim, dimana proses nya sangat cepat tanpa fase cair berlangsung, maka terjadi sublimasi zat tersebut terkondensasi menjadi padatan atau kristal kembali dari perubahan bentuk rasa padat ke gas.
Pada proses sublimasi dirangkai alat yang dimana menggunakan alat kertas saring, kertas saring dibuat berlobang, mengapa dihujat lobang dikarenakan uap yang akan di kristal ditampung dengan corong pemisah yang dijadikan tutup. Naftalen yang disublim pada suhu kamar akan memiliki titik triple diatas titik triple air, menyebabkan Naftalen sangat mudah sekali menguap dibandingkan dengan air. Pada percobaan ini massa yang digunakan sebanyak 0,5 gr.
IX. Kesimpulan
Berdasarkan praktikum yang telah kami lakukan dapat disimpulkan :1. Rekristalisasi merupakan suatu cara untuk memurnikan suatu senyawa padatan dari proses reaksi reaksi organik.
2. Sublimasi merupakan proses perubahan dari suatu zat padat menjadi uap dan zat terkondensasi langsung menjadi padat tanpa melalui fasa cair.
3. Pelarut yang di pakai adalah jenis pelarut yang sejalan atau pas dengan zat yang ingin di kristalisasi.
4. Pada proses sublimasi persen rendaman dapat dicari mengunakan rumus % rendaman adalah :
%Rendaman = Jumlah Naftalen hasil / jumlah Naftalen awal × 100%
X. Daftar Pustaka
Arsyad, 2010. Kamus kimia arti dan penjelasan istilah. Jakarta : Gramedia.
Pinalia. A. 2011. Pemurnian garam dapur melalui metode kristalisasi air tua dengan bahan pengikat pengotor Na2C2O4 - NaHCO3 dan Na2C2O4 - Na2CO3 Vol 8 No 1.
Riawan. 2010. Kimia organik. Tanggerang : Binarupa aksara
Syahmani. 2007. Kimia Organik. Bandung : Ganesha
Triastuti, A dkk. 2010. Kristalisasi amonium perkoalat (AP) dengan sistem pendingin terkontrol Untuk menghasilkan kristal berbentuk bulat. Majalah teknologi dirgantara. Vol 9 No 2.
Pinalia. A. 2011. Pemurnian garam dapur melalui metode kristalisasi air tua dengan bahan pengikat pengotor Na2C2O4 - NaHCO3 dan Na2C2O4 - Na2CO3 Vol 8 No 1.
Riawan. 2010. Kimia organik. Tanggerang : Binarupa aksara
Syahmani. 2007. Kimia Organik. Bandung : Ganesha
Triastuti, A dkk. 2010. Kristalisasi amonium perkoalat (AP) dengan sistem pendingin terkontrol Untuk menghasilkan kristal berbentuk bulat. Majalah teknologi dirgantara. Vol 9 No 2.
XI. Manfaat
Adapun manfaat dari Praktikum yang telah kami lakukan adalah kami dapat mengamati proses kristalisasi dengan baik, dapat memilih pelarut yang sesuai untuk rekristalisasi, dapat menjernihkan dan menghilangkan warna larutan, dapat memisahkan dan memurnikan campuran dengan Rekristalisasi.
XII. Pertanyaan Permasalahan
1. Mengapa pada saat percobaan rekristalisasi, saat melarutkan asam benzoat harus mengunakan air panas tidak menggunakan air biasa?
2. Mengapa pada saat melarutkan asam benzoat menggunakan air panas, syarat Larutannya adalah tidak boleh terlalu encer dan juga tidak boleh terlalu kental, mengapa demikian.
3. Mengapa pada percobaan sublimasi kertas saring harus dibuat lobang lobang kecil terlebih dahulu untuk proses pemanasan?
XIII. Lampiran Gambar
Kristal naftalen hasil sublimasi
Kristal yang menepel pada corong kaca
hasil sublimasi naftalen yang tercemar
Penuangan air panas kedalam asam benzoat tercemar
Kristal asam benzoat hasil penyaringan
Pemanasan air sebagai pelarut asam benzoat dalam uji rekristalisasi






Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusAssalamualaikum warahmatullah wabarakatuh
BalasHapusNama saya Valen Dwi Putri,
Nim : A1C118050. Saya akan mencoba menjawab soal nomer 3. Mengapa pada percobaan sublimasi kertas saring harus dibuat lobang lobang kecil terlebih dahulu untuk proses pemanasan?. Agar proses sublimasi dapat berlangsung dengan sempurna, baik itu penguapan maupun proses pengkristalan.
Assalamu'alaikum wr.wb. perkenalkan saya dara kumalasari dengan NIM : A1C118038 akan mencoba menjawab pertanyaan no 1
BalasHapusdisini dimaksudkan untuk melarutkan asam benzoat beserta zat pengotor/pencemar , dengan air panas campuran akan cepat larut. ditakutkan ketika menggunakan air biasa (suhu normal) campuran tidak larut (homogen) sehingga hasil yang didapatkan tidak sesuai.
HapusPerkenalkan nama saya TRIXIE FEDORA IMA GULO NIM A1C118077, akan menjawab pertanyaan nomor 2. Agar ketika disaring kita benar-benar mendapatkan zat yang murni, jika kekentalan maka berarti senyawa pengotor lebih banyak menyatu nantinya dan jika keenceran senyawa yg ingin diambil/dikristalisasi terlarut dalam aquades atau pengotor. Terima kasih
BalasHapus