Jurnal praktikum kimia organik 1 - Percobaan 1

JURNAL PRAKTIKUM
KIMIA ORGANIK I




DISUSUN OLEH :
RAHMADANSAH
(NIM : A1C118066)


DOSEN PENGAMPU:

Dr. Drs. SYAMSURIZAL.,M.Si




       PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA
JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JAMBI
 2019




PERCOBAAN 1

I.        JUDUL                             : Analisa Kualitatif unsur-Unsur Zat Organik dan Penentuan Kelas                                                                       kelarutan
II.      Hari/Tanggal                  : Rabu/29 Januari 2020
III.    Tujuan                            : Adapun tujuan dari percobaan ini adalah:
       1.) Dapat memahami prinsip dasar dalam analisa kualitatif dalam kimia organik.
       2.)  Dapat mencoba menganalisis beberapa senyawa Unknow.
     3.) Dapat memahami proses kerja analisis dimulai dari unsur halogen, nitrogen, belerang, hidrogen, karbon, dalam suatu senyawa organic dan penentuan kelas kelarutan.

IV.   Landasan Teori:
          Analisis kimia yaitu dalam sebuah sampel akan bertujuan melakukan penyelidikan kimia untuk menemukan suatu susunan dari sebuah persenyawaan atau hitungan persen dari suatu campuran tersebut. Didalam molekul lainnya suatu senyawa akan terjadi perubahan dari reaksi kimia pada umumnya (Vogel, 2012 : 180).
          Senyawa organik merupakan didalamnya sudah terdapat kandungan karbon yang sebagian besar mengolongi senyawa kimia. Ada beberapa hal bersifat sebagai sifat fisika organik yang berkelarutan dari massa molekul (Riswiyanto, 2011 : 96).
          Menurut Rini dan Yoga (2012) bentuk dari ketiga fase gas, cair, padat dapat terhomogenkan dari fase awal dinamakan kelarutan. Yang sangat berpengaruh dari suatu proses kelarutan adalah pelarut yang dipakai dengan mempertimbangkan tekanan dengan suhu sekitar.
          Bagaimana analisis suatu senyawa organik, dapat dilakukan dengan proses pembakaran CO2 dengan H2O dari proses penyerapan. Ada suatu metode dari sebuah pembakaran yang dibuat dari jaman dahulu.signifikasi lelbig akan diperuntukan ke metode lavollier. Dalam kegiatan kromatografi dari fase gas tidak digunakan sebuah penimbangan (Yoshito, 2010 : 146).
          Dari berbagai senyawa organik dengan mudah dikelompokan menjadi sifat kelarutan dari perbandingan solute dan solvent. Suatu senyawa akan dapat terlarut jika senyawa memiliki jenis senyawa yang kembar.informasi yang didapatkan dari proses kelarutan dari hasil penggolongan larutan yang bersifat basa ataupun asam (Sahidin dkk, 2011).
          Didalam penyusunan zat zat organik terdapat kerja masing masing  untuk berlangsungnya kehidupan yang dialami makhluk ciptaan Tuhan. Bukan hanya itu memahami penyusun dari unsur unsur suatu senyawa akan dapat diperkirakan rumus molekul dan rumus empiris nya. Kemudian dapat pula diramalkan jenis pelarut tersebut nonpolar atau polar dari sifat Kelarutan senyawa organik tersebut. Hal yang menyebabkan suatu senyawa dapat bereaksi dengan senyawa lain adalah karena ada prediksi tingkat Kelarutan dalam suatu senyawa. Ketika berinisiatif mendesain percobaan sendiri disanalah didapatkan pemahaman dan ilmu pengetahuan baru semua itu tidak lepas dari teknik teknik menganalisis suatu unsur yang menyusun senyawa organik tersebut (http://syamsurizal.staff.unja.ac.id/2019/02/22/analisis-kualitatif-senyawa-organik/ ).
   
                   V. Alat dan Bahan
        5.1  Alat
                        ·        Cawan porselen
·         Pemanas Bunsen
·         Tabung reaksi
·         Sumbat
·         Pipa penyuling gas
·         Tabung pengalir gas
·         Kawat tembaga
·         Kertas saring
·         Gelas kimia 100 mL

5.2  Bahan
·         Serbuk CuO kering
·         Gula
·         Ca(OH)2
·         CCl4
·         CaO
·         Air suling
·         HNO3 encer
·         AgNO3 encer
·         Asam asetat
·         Larutan unknown
·         Pb asetat 10%
·         Na-Nitroposida
·         Larutan FeSO4
·         Larutan KF 10%
·         Asam sulfat encer (20-25%)
·         Larutan eter
·         Asam sulfat enscer (10-20%)
·         Larutan NaOH 5%
·         NaHCO3 5%
·         H3PO4

                    VI. Prosedur Kerja
  6.1  Analisa unsur
6.1.1        Karbon dan hidrogen
Ditempatkan 1-2 gram CuO kering ke dalam cawan porselen, kemudian dikeringkan diatas pemanas Bunsen, selagi hangat campurkan dengan sejumlah gula (lebih kurang 1/10 jumlah CuO), dipindahkan campuran kedalam tabung reaksi pyrex dilengkapi sumbat dan pipa pengalir gas. Disusun tabung pengalir gas, sehingga gas yang mengalir bisa masuk ke tabung yang berisi 10 ml larutan Ca(OH)2. Dipanaskan campuran dan perhatikan air yang mengembung di tabung reaksi bagian atas.
6.1.2        Halogen
Tes Beilstein. Dipanaskan kawat tembaga sampai kemerah-merahan dan tak memberikan nyala lain. Didinginkan, lalu tetesi kawat tersebut dengan dua tetes CCl4.Dipijarkan kembali lalu amati warna nyala yang dinunjukkan oleh uap Cu-halida yang terbentuk.
Tes CaO. Dipanaskan CaO bebas halogen kemudian ditambahkan CaO dengan dua tetes CCL4 dan didihkan dengan 5-10 mL air suling, lalu tuangkan kedalm gelas kimia 100 mL dan larutan dalam HNO3encer ( 1 vol HNO3 pekat dalam 1 vol air suling). Kalau larutan jernih tak didapat, saring dan tambahkan 2-3 ml larutan AgNO3 encer (5-10). Diamati yang terjadi.
6.1.3        Metode Leburan dengan Natrium
Ditempatkan tabung reaksi kecil kedalam keeping asber, dimasukkan sebiji logam Na kemudian dipanaskan sampai meleleh dan ditambahkan cuplikan halogen, S dan N secepatnya. Pijarkan kembali tabung sampai membara. Ketika tabung masih  membara, masukan tabung kedalam gelas kimia  100 ml yang birisi 15 ml air suling.Tabung akan segera pecah, sisa sedikit Na akan bereaksi dengan air. Bila reaksi sudah kembali tenang, hancurkan bagian sisa tabung, lalu didihkan diatas api, saring dengan kertas saring biasa lalu gunakan larutan ini (=larutan Lassaigne) untuk keperluas tes-tes berikutnya:
a.      Belerang
Diasamkan 3 ml larutan L dengan asam asetat, didihkan dan periksa gas yang dihasilkan dengan kertas saring basah yang sudah ditetesi Pb_asetat 10%. Amati yang terrjadi. Pada bagian larutan L lainnya, tambahkan 1-2 tetes larutan Na-m\nitroprosida. Diamati warna larutan yang terjadi.
b.      Nitrogen
Kedalam 3 ml larutan L, ditambahkan 5 tetes larutan FeSO4 yang masih baru, 1 tetes larutan FeCl3dan 5 tetes KF 10%. Ditambahkan 1-2 ml NaOH 10 %, didihkan. Diasamkan dengan asam sulfat encer (20-25%) ( jika tidak adabelerang), ditambahkan 3 ml larutan L dan 5 tetes FeSO4, kemudian diasamkan dengan H2SO4 encer (10-20 %), tahbahkan 5 tetes larutan KF 10 % dan 1 tetes larutan FeCl3 untuk mendapatkan endapan berlin.
c.       Halogen  
Asamkan 3 ml larutan L dengan larutan HNO3 encer ( 1 vol HNO3 pekat dalam 1 vol air suling). Jika N dan S ada, didihkan hati-hati untuk 5-10 menit, untuk menghilangkan HCN atau H2S yang mungkin terbentuk. Tambahkan 5 ml larutan AgNO3 encer (5-10%), dan lanjutkan pendidihan beberapa menit. Endapan yang banyak menandakan adanya halogen, bila ada sedikit mungkin jhanya pengotor dalam pereaksi.

6.2  Penentuan kalas kelarutan
Tentukan kelas kelarutan dari 5 senyanya yang ditunjukkan oleh dosen/asisten,catat: nama senyawa, struktur (cari dalam handbook), unsur yang dikandungnya dan bau serta warnanya.
6.2.1        Kelarutan dalam air
Kedalam tabung reaksi reaksi besar masukan lebih kurang 0,1 gram zat padat atau 3 tetes zat cair, lalu tambahkan  3 ml air suling, kocok kuat-kuat. Larutan jernih, bearti larut dalam air (+), larutan keruh bearati tak larut dalam air (-). Bila hasilnya (+), selanjutnya lakukan tes kelarutan dalam eter, bila (-) lanjutkan tes kelarutan dengan pelarut lainnya.
6.2.2        Kelarutan dalam eter
Sama seperti diatas, tambahkan 5 ml larutan HCL 5% kocok dan amati. Larutan jernih bearti hasilntya (+). Larut dalam eter atau sebaliknya.
6.2.3        Kelarutan dalam NaOH 5%
Sama seperti diatas, tambahkan 3 ml larutan NaOh 5%. Larutan jernih bearti (+), biasaya disertai perubahn warna- dan bila keruh berarti (-).kalau terjadi keraguan, campuran disaring dan filtratnya dinetralka dengan asam HCL encer jika keruh (+). Bila (+) lanjutkan dengan NaHcO3.
6.2.4        Kelarutan dalam NaHCO3
Sama seperti diatas, dengan menambahkan 3 ml larutan NaHCO3 5%. Bila timbul gas CO2 berarti hasilnya (+) sebaliknya(-).
6.2.5        Kelarutan dalam HCl
Sama seperti diatas, ditambahkan 5 ml larutan HCl 5% kocok dan amati. Larutan jernih berarti hasilnya (+) bila keruh, kalua meragukan, campuran disaring, lalu kedalam filtrat ntralkan dengan larutan NaOH encer. Bila larutan jadi keruh berarti hasilnya (+)
6.2.6        Kelarutan dalam H2SO4
Sama sepertidiatas, tambahkan 3 ml H2SO4 pekat kocok hati-hati. Bila jernih atau timbul panas atau perubahan warna, berarti (+).
6.2.7        Kelarutan dalam H3PO4
Sama seperti diatas dengan menambahkan asam posfat pekat. Jeernih artiya (+). Selanjutnya dibuat table atau diagram hasil [engamatan kelarutan dan ambil kesimpulannya.

LINK VIDEO PERMASALAHAN: https://youtu.be/xBxXkabvCYU

PERTANYAAN: 
1.) Mengapa pada proses pendeteksian karbon memerlukan waktu 3 menit untuk pemanasannya?
2.) Apa fungsi air kapur pada pendeteksian karbon dari video diatas?
3.) Apa yang menyebabkan larutan CuSO4 berwarna biru pada proses pendeteksian hidrogen?

Komentar

  1. Assalamualaikum perkenalkan saya septia misca dalvanny (A1C118005) akan menjawab pertanyaan nomor 1
    Karena sekitar waktu 3 menit glukosa sudah selesai bereaksi dengan pemanasan sehingga untuk pengamatan warna itu lebih pas dengan keadaan reaksi yang telah terjadi pada glukosa itu sendiri , jika waktu yang digunakan kurang dari 3 menit biasanya perubahan penampakan unsur karbonnya belum jelas terlihat dan perubahan warna dikhawatirkan belum terjadi. Terimakasih

    BalasHapus
  2. Assalamualaikum Wr.. Wb..
    Nama saya Cici Indah Septiana, NIM A1C118069 kelas Reguler A, akan menjawab pertanyaan nomor 3. CuSO4 berwarna biru karena CuSO4 merupakan senyawa anhidrat, jadi pada saat mengikat air maka yg tadinya pucat berubah jadi biru, hal itu menandakan bahwa senyawa itu telah mengikat air. Terima Kasih Wassalamualaikum

    BalasHapus
  3. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  4. Assalamu'alaikum wr wb
    Hallo..
    Perkenalkan Saya NADA FITRI RAHMAN , NIM : A1C118057 dari kelas REGULER A 2018, Pendidikan kimia ,FKIP, UNJA
    Saya ingin mencoba menjawab pertanyaan nomor 2 yang saudara paparkan . Tapi, sebelumnya saya mau mengoreksi sedikit ,bahwa dari link vidio yang saudara rahmadan paparkan saya trlah menonton dengan cermat vidio tersebut ,tetapi tidak ada unsur air jeruk pada vidio yang saya lihat tersebut , mungkin saudara sedikit typo dengan tulisan pertanyaan yang saudara tulis , mungkin yang rahmadan maksud itu adalah air kapur .
    Nah ,jadi untuk air kapur itu , sesudah saya menonton vidionya , fungsi dari adanya air kapur itu adalah sebagai pendeteksi ,dan pembuktian bahwa adanya unsur karbon terkandung pada uap / gas yang teralir tersebut ,seperti salah satunya unsur karbon dioksida .
    Terimakasih ����

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

PERCOBAAN 11 Praktikum Kimia Anorganik "Ekstraksi Tembaga"

Jurnal Praktikum Kimia Organik 1 - Percobaan 4

Laporan Praktikum Kimia Organik 1 - Percobaan 2